Wednesday 27 February 2019

Percakapan dengan Keiko

Keiko adalah teman baruku dari Jepang. Kebetulan, dia mengikuti program di Indonesia selama dua minggu.

Dia adalah orang pertama yang menghampiriku ketika sedang melakukan registrasi mahasiswa asing.
"Uli, dont you feel hot with that?" (Uli, kamu ngga merasa kepanasan pakai itu?sembari menunjuk ke hijab yang aku kenakan karena dia tidak mengetahui apa namanya.

Percakapan kita pun dimulai dan sampailah pada bagian yang paling membekas di memori:

Keiko : "Uli, I don't have religion. Most Japanese don't have" (Uli, aku ngga punya agama. Kebanyakan orang Jepang ngga punya agama juga).
"I sometimes envy with people who have religion and believe in God." (Kadang aku suka iri sama orang yang beragama dan percaya Tuhan.)

Uli  : "why?" (kenapa?)

Keiko : "Because when life is messed up and I don't know what to do, they, and you also, always have God The Greater Strength. At the time like that, I have none to rely on" (Karena ketika hidup terasa berantakan dan ngga tau lagi harus apa, kalian selalu punya Tuhan, Kekuatan Yang Besar. Di saat seperti itu, aku ngga punya siapa-siapa untuk bersandar).

Kami terdiam.

Saya menarik napas dan menjawab, "Indeed, Keiko." (Benar, Keiko)

Speechless. Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi, rasanya seperti diingatkan kembali bahwa nikmat iman dan islam adalah hal yang sepatutnya disyukuri...di saat diri ini banyak menuntut hal-hal yang sejatinya hanya penghias dunia.

---
Sayangnya, Keiko harus pulang terlebih dahulu ke Jepang karena kakeknya meninggal.
See you when I see you, Keiko.

Read More

Friday 10 August 2018

20 Jam di Pesawat | #AmericaDay1

Bismillahirrahmanirrahhim

Hari pertama menapakkan kaki di Amerika! Jujur saja, ini merupakan salah satu dreams come true saya untuk datang ke belahan bumi lain dengan perbedaan waktu 12 jam dari Indonesia. Thanks to Allah for this opportunity! Alhamdulillah.
Saya akan tinggal 27 hari di sini di 3 kota: Little Rock, Washington DC, dan New York City bersama teman baru saya, Evelyn dari ITB.
Hari pertama saya habiskan 20 jam di pesawat dari Indonesia menuju Amerika. It was such a long long flight, but fun! Here is the story

9 Agustus 2018
Jakarta, Indonesia ke Tokyo, Jepang

Prayer Room di Narita
06.45 pesawat take off dari bandara Soetta, Indonesia menuju bandara Narita, Jepang untuk transit pertama. Maskapai yang digunakan adalah Japan Airline (JAL). Well, I have nothing to say except GREAT for this flight. Semuanya nyaman, makanannya enak (jujur, lebih enak dari Garuda padahal Garuda juga sudah enak kan? hehe), entertainment on board-nya juga update, pramugarinya ramah dan free drinksnya tidak hanya satu dua kali (kalau tidak salah waktu flight saya ke Korea pakai Garuda, saya hanya dapat free drink sekali ya, but I'm not sure). Sayangnya, saya tidak dapat window seat jadi kurang lengkap hehe.
Saya tidak mempermasalahkan makanan halal di JAL karena apabila flight dari Indonesia, makanannya (daging-dagingannya) insyaa Allah masih halal.
Setelah 7 jam perjalanan, sampailah di Jepang pada pukul 04.25 sore waktu Jepang (perbedaan waktu 2 jam lebih cepat dari Indonesia).
Di Narita, saya mencari tempat solat untuk dzuhur dan ashar. Alhamdulillah, bandara menyediakan Prayer Room yang sangat nyaman untuk solat. Dan hanya ada saya di tempat solat tersebut hehehe.

tampak dalam Prayer Room di Narita

 Tokyo, Jepang ke Dallas, Texas, Amerika


pesawat AA untuk penerbangan 12 jam!
Transit di Narita kurang lebih satu setengah jam dilanjutkan dengan penerbangan menuju Texas, Amerika selama DUA BELAS JAM, yup 12 jam di pesawat! Penerbangan terlama yang pernah saya jalani. Maskapai yang digunakan adalah American Airlines (AA). Take off dari Narita sekitar jam 06.40 sore waktu Jepang. Pada penerbangan kali ini, saya tidak duduk bersama Evelyn dan berita baiknya adalah saya mendapat window seat! Yeay!







Di perjalanan 12 jam ini saya mendapat teman baru. Namanya Mary, dia duduk di sebelah saya dan dia tinggal di Washington DC (kami berencana untuk bertemu di DC ketika saya ke sana, semoga jadi hehe). We talked a lot, jadi 12 jam flight sangat tidak terasa. Thank you, Mary! Anyway, ayah Mary berasal dari Filipina dan ibunya asli Amerika, maka dari itu seperti ada sentuhan Asia di wajahnya.

Passport saya dan Mary
Saya dan Mary setelah 12 jam penerbangan

Hal yang menarik dari flight kali ini adalah...saya satu-satunya yang pakai hijab. Ketika waktunya makan, pramugari menawarkan beberapa pilihan menu untuk penumpang pesawat, termasuk saya. Alhamdulillah saya berhijab, jadi tidak usah susah-susah bahwa saya tidak bisa makan pork atau daging babi karena pramugarinya sudah mengerti.

"Well, I know you are not eating pork, so I give you seafood pasta instead," katanya ketika mendatangi kursi saya.
Dan di waktu makna yang kedua, dia juga melakukan hal yang sama.
I was very happy and comfortable.

Saya sangat nyaman dengan hijab yang saya gunakan karena hijab ini bahkan melindungi saya sebelum saya mengucapkan kata-kata untuk melindungi diri saya sendiri. Dan ini bukan untuk pertama kalinya. Alhamdulillah.

Setelah 12 jam perjalanan, sampailah saya di Amerika! Lebih tepatnya di Dallas, Texas pada tanggal yang sama, pukul 5 sore waktu Amerika (kalau di Indonesia sudah tanggal 10 Agustus jam 5 pagi).


Dallas, Texas, Amerika ke Little Rock, Arkansas, Amerika
Nama bandara tempat kami mendarat adalah Dallas-Fort Worth (DFW). Walaupun sudah sampai Amerika, saya masih harus menjalani satu penerbangan lagi menuju Little Rock, sekitar satu jam dari Dallas. Saya dan Evelyn harus buru-buru karena kami hanya punya waktu satu jam transit. Padahal bandara di Dallas super besar dan proses imigrasinya super ribet. Harus scan passport, antri imigrasi dan cukai, antri ambil baggage, antri untuk screening sebelum cek in lagi, dan lari-lari ke gate penerbangan kita. Mantap!
tidak sempat ambil foto basgu di Dallas kecuali ini karena kami buru-buru
Tapi satu hal yang saya kagumi dari sistem imigrasi Amerika adalah mereka menggunakan teknologi sepenuhnya dan alurnya sangat mudah dipahami bagi first timer seperti saya.

Ketika saya dan Evelyn berlarian mengejar pesawat, saya berpapasan dengan seorang security wanita yang menggunakan hijab. Dia tersenyum ke arah saya dan mengucapkan salam Assalamu'alaikum dari tempatnya. Sayang sekali saya sedang terburu-buru, jadi saya menjawab salam dan tersenyum balik sambil lari-lari. Kalau tidak, mungkin saya akan menghampirinya dan ngobrol sedikit.

Lagi, saya sangat bersyukur dengan hijab yang saya gunakan. Salam tadi bukan hanya merupakan salam pertama yang saya dapatkan di Amerika, melainkan juga doa pertama.

"Assalamu'alaikum
May the peace be upon you
Semoga keselamatan terlimpah padamu"

Kejadian tersebut sukses membuat saya tersenyum bahagia dan mendapat pelajaran bahwa muslim seluruh dunia adalah saudara, walaupun perbedaan selalu ada.

Sampai di Little Rock, Arkansas, Amerika


Setelah satu jam penerbangan, sampailah kami di Little Rock, sebuah kota kecil di Amerika pada pukul 07.33 malam (tetapi matahari belum tenggelam). Kami dijemput oleh Joyce Taylor, host family kami di sini.


Total penerbangan kali ini adalah 20 jam. Walau begitu, saya berangkat tanggal 9 Agustus 2018 jam 06.45 pagi dan sampai di Amerika pada tanggal 9 Agustus 2018 jam 07.33 malam akibat dari perbedaan waktu 12 jam.



Semoga banyak pelajaran dan cerita yang saya dapatkan dan bisa saya bagi di #27HariAmerika ini.

depan rumah Taylor Family

Joyce Taylor - Johnny Taylor - Evelyn - Saya








Read More

Thursday 31 May 2018

Seni Berdoa


Berdoalah
di antara takut dan harap,
di antara Khauf dan Rajaa'

Karena tepat di situ,
kamu tahu
bahwa manusia
bisa
berencana dengan harapan
dan menyerah karena ketakutan

Karena tepat di situ,
Allah mengingatkan
bahwa Dia
tidak ke mana-mana
kamu hanya perlu meminta
dan memberi hakmu atas-Nya

Berdoalah
di antara takut dan harap
di antara Khauf dan Rajaa'

---




inspired by: skripsi dan kelahiran sepupu baru.







Read More

Monday 21 May 2018

Menjadi Kakak

Kita hidup bermain banyak peran: menjadi anak, menjadi teman, menjadi orang tua, menjadi guru, menjadi (isi dengan pekerjaan kalian masing-masing), menjadi mahasiswa, menjadi...kakak.

Baru selama 21 tahun saya hidup, hari ini saya menyadari satu hal besar di hidup saya. I'm not a good older sister yet. 

Banyak buku yang membahas 'Bagaimana cara menjadi orang tua yang baik', 'bagaimana cara menjadi guru yang baik' atau apapun berdasarkan profesi masing-masing, 'bagaimana menjadi teman yang baik', 'bagaimana menjadi pasangan yang baik'.

Tapi yang luput dan belum pernah saya baca adalah
'Bagaimana menjadi kakak yang baik?'

Malam ini, deep talk saya dengan 2 teman saya lain (yang sama sama menjadi anak pertama di keluarga dan memiliki adik) adalah tentang menjadi kakak yang baik.

Kami sama-sama sepakat bahwa peran kakak adalah peran yang sangat dibutuhkan, sama seperti orang tua. Seharusnya, family functioning itu terjadi bukan hanya pada lingkup orang tua ke anak, melainkan dari kakak ke adik atau sebaliknya.
Karena?
Ya karena kita keluarga. Kita satu kesatuan yang memang harus saling menguatkan satu sama lain, bukan terus menerus dikuatkan dan menunggu orang tua untuk melakukannya.
Contohnya sesimpel bercerita. Kamu bisa dengarkan adikmu bercerita, atau mulai lah lebih dahulu. Tidak perlu bilang ke orang tua 'bu/pak, itu adek mau cerita'.
No.
You
Can
Start
With
Your
Own
Self.

Mulai cerita dari hal paling tidak penting, acara tv kesukaannya, apa yang dilakukan hari itu, lalu masuk ke cerita yang lebih dalam atau masalahnya.

Menjadi kakak adalah menjadi pendengar.
Pastikan kamu menjadi tempat yang nyaman untuk mereka bercerita. Ketika mereka belum mau bercerita, maka mulai lah dari kamu. It may take day even years, but keep trying.

Menjadi kakak adalah  menjadi tempat untuk memberikan kepercayaan dan dipercaya.

Menjadi kakak adalah belajar menjadi orang tua.

Menjadi kakak adalah menjadi tempat belajar dan mengerti bahwa ada hal lain di dunia ini yang lebih penting dari diri sendiri.

Menjadi kakak adalah menjadi mengerti bahwa ada orang yang harus kita lindungi.
Ya, dengan bertambah ganasnya dunia ini dari efek samping penggunaan internet, pergaulan remaja masa kini, dan lainnya, hati kakak mana yang tidak khawatir terhadap adiknya?
Walaupun pada akhirnya, kita sebagai kakak lah yang tentukan apakah rasa khawatir itu akan berubah menjadi tindakan atau hanya sebatas rasa. 

Saya juga belum menjadi kakak yang baik.
Tapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah menjadi kakak yang baik.

Saya akan tutup tulisan ini dengan salah satu kutipan yang pernah saya dengar:
"we will only have each other when mom and dad go back to God. Kita hanya punya satu sama lain, ketika orang tua kita 'pulang'."

----




Read More

Sunday 13 May 2018

Hence?

It's scary out there
the idea of maturing, for me
is becoming scary yet funny 
Marriage, after campus life, and soon and soon and soon

Hence? 
I still go maturing
Hence?
I will be there
Hence?
Be prepared
Still it's scary

Yet funny

Me infront of my bachelor thesis whispered:
I hope everything will more than be okay, it will be that great
Even the uncertainty will happen anyway
But I'm gonna make it anyway

Hence?

Keep the faith that God has the best plan. And Indeed He will not change the condition of a people until they change what is in themselves (13:11).

Hence?
I need to keep going through uncertainty. Otherwise, God will never change it anyway. 

Keep the faith
Keep going

Read More

Thursday 3 May 2018

From Me To Me

You should not be in a hurry, dear
I beg you to calculate all the consequences

You should not be in a hurry
I beg you to think clearly how your future will be

You should not be in a hurry
I beg you to understand again your dreams and purposes

You should not be in a hurry
Nor steady

You are still young
And you have to be brave
to open up the gates
which are closed
to develop others
while it develops you

I mean, I miss the old you, Li
Little bit ambition wont hurt you right? 
Come again...


Read More

Friday 27 April 2018

Harusnya sedikit lagi

Sedikit lagi
Tapi kalau yang namanya belum rezekinya
itu ngga jadi sedikit

Rasanya pengin bilang
harusnya kamu bisa sedikit tambah usaha, li. Sedikit lagi.
Tapi emang beda cerita kalo masalahnya
bukan jalannya

Another story to learn
Another chance to grow bigger and wiser
Sometimes I win
Anytime I learn

This is why I love Semarang even more
It's the representative of hope and God's help
in order to show me
the path that I need.

Sometimes,
Not all which I want is what I need.

Dear, Uli
Thank you for your effort
You must be thank to your God
for giving you this opportunity
He knows what the best for you
And thank to yourself
for doing the things beyond

Li, habis ini apa?
Read More

Friday 13 April 2018

Refleksi KRL Malam Ini

"Ya li, kalo misal nih kita hidup cari uang naik KRL tiap hari begini, kamu emang mau?"

Beneran saya bisa jawab itu 100000 kali dengan jawaban 'engga'.
Bukan berarti engga baik, ya cari rezeki itu kan salah satu bentuk ikhtiar kan? Ngga salah. 
Yang salah adalah kalau saya kehilangan esensi dari hidup. 
Panggil saya orang yang idealis kalo saya bilang uang bukan esensi dari hidup saya. I never dream to be the richest man on earth. For sure. 
Saya cuma mau, kalau finansial, ya yang penting cukup kalau lagi butuh, nggak kekurangan, dan bisa 'beribadah' bukan cuma yang wajib tapi juga ibadah sunah yang pake materi: misal ngediriin masjid, ngebiayain dakwah. 
Sepakat?

Mungkin karena saya masih 21 dan semua terlihat sangat indah jadi masih idealis. Tapi percayalah saya jadi sangat pragmatis kalau sudah down. Tanda-tandanya saya jadi sangat duniawi dan nggak jelas ke arah mana saya lari, apa yang saya kejar.

Kalau ditanya habis lulus mau kerja apa. Di otak saya yang paling dominan ya sekolah lagi jadi psikolog. Tapi ya hidup kan nggak semulus itu juga, selalu ada in between. 

Malam ini sepanjang di kereta, setelah berbulan bulan nggak ngomong hal hal serius tentang hidup, akhirnya diskusi lagi. Di KRL menuju Depok yang masih padat. 

Saya suka ngobrol sama orang yang visioner dan punya tujuan hidup bukan  cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang banyak. Yang ngelihat uang sebagai tools bukan goals. 

Banyak ketampar tapi ya itu nggak salah. Cukup membuat saya bangun dan bilang sama diri sendiri,"ngapain aja lo selama ini li. Parah banget hidup lo belum ketata."

It is never too late to start again, isn't it?

Ya perjalanan pulang di KRL itu selalu punya cerita sendiri tiap hari. Malam ini saya bersyukur, menutup weekdays bukan dengan cerita jodooooooh dan wedding yang bisa bikin saya pusing. 
Walaupun malam ini saya jadi banyak mikir, tapi akhirnya bangun. 
Selamat pagi Uli. 


Read More