Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, 27 October 2012

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)
Read More

Sunday, 14 October 2012

Tandus



Terusan ini menyambung yang dulu
dengan yang baru yang harus terjadi
Tapi bolehkah terusan kekeringan dan tandus?
Tanpa air, hanya tanah pecah-pecah
Tapi bolehkah sekali saja terusan ini mengantar ke belakang?
Hanya sebentar
dan hanya untuk mengingat
karunia-Nya tentang sebuah rasa
yang kini entah ke mana
Bukan dan tak maksud bila rasa ingin kembali
bukan
Hanya melirik sebentar lalu pergi lagi
Hanya menarik napas 
dan mengerti apa yang harus teratasi
pula mengerti apa yang harus diperbaiki
agar bisa kembali
ah, bukan itu
Tapi memang berbeda pada malam
ketika melihat saja
dan melihat nyata
berubah pada porsi yang berbeda
dan yang tak kenal siapa 
Dia ada namun berbeda
dan seharusnya memang begitu, karena terusan
tak pernah kering dan tandus


Read More

Friday, 12 October 2012

Senja

Karena ketika gadis itu lelah pada senja, pernah ada sosok yang menunggunya di sana
Karena ketika gadis itu terlalu larut untuk mengayuh, selalu ada sosok yang bertanya
Karena ketika gadis itu jenuh, selalu ada sosok yang sama walau hanya diam
Karena ketika gadis itu menangis dalam keramaian, sosok itu ada di sampingnya
Karena ketika gadis itu menunggu, sosok itu tak muncul
Karena ketika gadis itu tak harap, sosok itu datang
Dan senja ini, dia muncul kembali
dan bertanya kemudian sampaikan penutup jumpa
Taukah?  Gadis itu tersenyum membelakanginya

 


Read More

Suasana Jogja




Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati
Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…


"Rindu setangkup kebahagiaan di Jogja dan  rindu tawa yang pernah ada di Jogja"

Read More

Thursday, 11 October 2012

Sepasang Manusia




Sepasang manusia bersandar pada gelisah, dan
sedikit tawa
Sepasang manusia berbicara tentang apa yang
disebut cinta
Sepasang manusia berselimut matahari pada
terbitnya
dan sepasang manusia sampaikan salam pembuka
Mencoba sampaikan sebuah
tapi satu berkata juga
tapi satu ingin berkata namun
tertunda


Read More

Wednesday, 10 October 2012

Kebenaran Setengah Palsu




Nada pilu mengantarnya pergi
Mungkin saja tak kembali dan berharap adalah haram
Tapi hati siapa tahu
karena bukan lah mata angin yang dapat ditentukan arahnya
Tapi hati siapa tahu
karena bukan manusia yang dapat terbaca secara mudah
Tapi hati siapa tahu,
karena bukan kamu
Selama mungkin dunia ini terlalu sempit untuk bertemu
dan terlalu sempit untuk berjalan di hadapanmu
dan terlalu sempit untuk tidak lihatmu
dan terlalu sempit untuk memberikan kejauhan padamu
dan terlalu sempit untuk tak ingat padamu
Selama itu pula,
akan ada satu yang sukar untuk
bergerak dan berjalan ke depan
Selama itu pula,
akan ada satu yang menjadi
api
dalam air
Selama itu pula,
kamu tak akan mengerti
tentang apa yang terjadi
di belakang
Bila benar kebohongan dapat terbaca dari air muka
harusnya kamu tahu dari dulu
harusnya kamu tahu sekarang
harusnya kamu tahu tadi
harusnya kamu tahu
aku
Benar aku yang palingkan muka lebih dahulu
tapi tak benar bila semua berpaling darimu
Read More

Bukan Diam


 Diam lagi tak cukup untuk bilang ‘ya’ dan ‘maaf’. Tapi kali ini cukup, tanpa sepatah pun ‘ya’ dan atau ‘maaf’. Membaca tanpa bukti dalam diam. Mengerti  tanpa arti dalam diam . Menimbun tanpa peti dalam diam. Diam-diam membaca, mengerti, menimbun. Selamat pagi, itukah kamu? Sayangnya bukan aku paranormal yang bisa tahu, menegerti, paham pikirmu. Bila kah diam tetap jadi maumu, izinkan diam berganti, berlalu, dan pulang. Agar kamu tak mau mau diam. Bila masih mau kamu diam, bisakah a-k-u jadi diam? Diam yang jadi maumu bukan diam-diam yang lain. Aku takut mengulang dan dipergikan saat jadi diam. Aku tak takut bila diammu, diamku hanya diam. Aku tak mau bila aku adalah diam dan kamu berganti jadi bising, karena bising bukan diam, ataupun menjadi maumu yang bukan diam. Apapun ketidakpastian itu, bisakah diam pergi? Hanya sejenak, aku janji. Tolong tunda diam yang maumu, aku ingin katakana sesuatu…. “kala nanti, kapanpun bisa diammu berganti dan mengerti ini, tolong katakan pada amplop dan pena bahwa diammu mengerti”…Karena aku bukan diam.
Read More

Tuesday, 2 October 2012

OKTOBER KALA HUJAN


Gemericik hujan malam itu tak surut menepikan gundah akhir September
Membuainya dalam suara gemericik dan menyelimutinya dengan hujan
Takut kalau-kalau ada hujan lain yang datang, yang lebih hangat
dari bola mata
Gundah padanya sebab sebuah batasan firasat
Firasat bahwa angin tak bawanya kembali pada yang gundah
Hujan tak henti dalam akhir September sebelum dia tutup mata, tutup firasat
Ke mana air mengalir, ke mana firasat terbang
Sadarlah tentang fatamorgana kapan bisa jadi nyata?
Kini Oktober
Kadang panas kadang dingin, kadang datang kadang pergi
Firasat lagi datang, gundah datang, tapi objek tak datang
Kerap kali mengetuk namun menghilang, mengintip tak berani melihat
Oktober tanpa hujan bukan pertanda baik tapi tak buruk
Padanya biarlah semua berlalu hingga Oktober hampir habis, cukup
Setelah itu haruslah firasat, gundah, dan lain hilang
Biar Oktober menyapu memoar lewat hujan dan tak perlu hujan lain
Ketika Oktober dalam hujan semoga di akhir
Agar  beritahunya tentang pertambahan pada Oktober 



Read More

Saturday, 21 July 2012

Mungkin Rindu

Bila rindu tak berobjek, itukah kamu?
Sayang, rinduku hanya bersubjek dan tanpa objek
jelas lah! itu bukan kamu  




Read More

Saturday, 9 June 2012

Tulisan Rakyat Mini untuk BESAR

huruf kapital tak cocok untuk rakyat mini
hamba mini tak gunakan huruf kapital
biar dihukum buku tata bahasa
hamba tak pantas gunakan kapital
kapital pantas buat yang besar
besar duit besar perut besar keinginan
yang mini tak cocok pakai besar, kedodoran
bapak presiden, tolong naikkan harga bbm
biar mini tambah mini, diet, pak!
bapak ikut saja jadi mini kalau tak korupsi
biar si besar yang pakai besar
mati dengan lemak menggumpal, babi




Read More